Boladunia

Mengulik 'Dosa' Para Pemilik Klub Top Eropa, dari Pembunuhan hingga Korupsi

Para pemilik klub top Eropa ini diduga pernah tersandung berbagai kasus, mulai dari pembunuhan hingga korupsi.

Rauhanda Riyantama

Pangeran Arab Saudi, Mohammed bin Salman. (AFP / Saudi Royal Palace)
Pangeran Arab Saudi, Mohammed bin Salman. (AFP / Saudi Royal Palace)

Bolatimes.com - Para pemilik klub top Eropa dikenal akan kekayaannya yang tak habis tujuh turunan. Namun di balik kekayaan mereka itu, terdapat noda hitam yang merusak citra mereka dan klub yang dimilikinya.

Klub-klub Eropa saat ini didominasi oleh kepemilikan tunggal atau badan. Terbaru ada Newcastle United yang baru saja berpindah tangan dari Mike Ashley ke Mohammed Bin Salman.

Mohammed Bin Salman menggunakan konsorsium yang ia pimpin yakni Public Investment Fund (PIF) untuk mengakuisisi saham mayoritas Newcastle United sebesar 80 persen.

Proses akuisisi ini sendiri terbilang tak mudah. Banyak penolakan yang diberikan dalam perpindahan saham Newcastle United. Hal ini lantaran sosok Mohammed Bin Salman yang juga merupakan Pangeran Kerajaan Arab Saudi.

Mohammed Bin Salman memiliki noda hitam yakni berupa pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) setelah dikaitkan namanya oleh kasus pembunuhan jurnalis bernama Jamal Khashoggi.

Ada tudingan bahwa Mohammed Bin Salman lah yang menjadi dalang pembunuhan Jamal Khashoggi pada 2018 di Konsulat Kerajaan Arab Saudi di Istanbul, Turki.

Hal ini membuat tunangan mendiang, Hatice Cengiz, mengeluarkan kecaman. Termasuk dalam proses akuisisi Newcastle United pada medio 2020 lalu.

Tudingan yang didapatkan Mohammed Bin Salman pun menambah panjang daftar dosa-dosa atau noda hitam para pemilik klub Eropa saat ini.

Lantas, apa saja dosa-dosa yang dimiliki para pemilik klub-klub Eropa tersebut?

1. Roman Abramovich (Chelsea)

Roman Abramovich dikenal sebagai bilyuner yang berstatus pemilik Chelsea. Kekayaannya sendiri berasal dari usaha yang ia rintis saat muda di Rusia.

Namun, kekayaan Abramovich ini disebut karena kedekatannya dengan oligarki Rusia. Ia juga disebut terlibat dalam skandal suap, penggelapan pajak, dan pendanaan pemukiman Yahudi di Palestina.

2. Tamim Bin Hamad Al-Thani (Paris Saint-Germain)

Pemilik Paris Saint-Germain, Tamim Bin Hamad Al-Thani merupakan salah satu figur yang berjasa untuk kemajuan sepak bola Prancis hingga menjadi salah satu liga top di Eropa.

Namun, sumbangsihnya itu ternoda oleh rekam jejaknya yang diduga mendanai Ikhwanul Muslimim (IM) di Mesir untuk menggulingkan pemerintahan Morsi. Selain itu namanya juga tercatut di Pandora Papers serta terkait isu eksploitasi tenaga kerja di Qatar.

3. Guo Guangchang (Wolverhampton Wandereres)

Pendukung Wolverhampton Wanderers tentu takkan melupakan jasa Guo Guangchang sehingga klubnya kini menjadi kuda hitam di Premier League.

Namun kekayaannya sehingga mampu mengakuisisi Wolves diduga akibat praktik korupsi di China pada 2015. Pada akhirnya, ia dilepaskan karena dianggap kooperatif.

4. Dmitry Rybolovlev (AS Monaco)

AS Monaco sempat menggebrak panggung Eropa di tahun 2016 sekaligus merajai Ligue 1 Prancis. Hal tersebut tak lepas dari campur tangan Dmitry Rybolovlev.

Namun kiprahnya membuat AS Monaco dipandang nyatanya tak berbanding lurus dengan kehidupannya di luar lapangan di mana ia terlibat ancaman pembunuhan rival bisninsnya, masuk dalam Panama Papers dan membuat sistem ilegal bersama Jorge Mendes dalam urusan transfer pemain.

5. Silvio Berlusconi (Eks Presiden AC Milan)

Bersama Silvio Berlusconi, AC Milan mampu meraih kejayaan di kancah domestik dan Eropa. Namun kepemimpinan apikya tersebut tercoreng beberapa noda hitam.

Berlusconi pernah terlibat kasus korupsi, penggelapan pajak, pencucian uang, penyalahgunaan kekuasaan saat menjabat Perdana Menteri Italia dan terlibat skandal pelecehan seksual.

6. Jesus Gil (Eks Presiden Atletico Madrid)

Pada era 1980 an, Atletico Madrid memiliki presiden yang kontroversial pada sosok Jesus Gil. Kontroversi yang dibuatnya sehingga tak disukai fans Los Rojiblancos adalah menutup akademi pada 1992 yang membuat Raul Gonzalez yang berusia 15 tahun menyeberang ke Real Madrid.

Selain itu, ia memiliki noda hitam di mana ia membangun komplek perumahan di Madrid yang kemudian rubuh dan menewaskan 58 orang. Karenanya ia sempat dipenjara 18 bulan sebelum mendapat amnesti dari Jenderal Franco.

Kontributor: Zulfikar Pamungkas Indrawijaya

Berita Terkait

Berita Terkini