Bolaindonesia

Eks Rekan Ayah Aubameyang Ini Sebut Betapa Bobroknya Sepak Bola Indonesia

Selama 20 tahun berkecimpung di sepak bola tanah air, ia menemui banyak praktek kotor yang terjadi di sepak bola Indonesia.

Galih Priatmojo

Arfi Zon bersama kenalan barunya, Saphou Lassy (kanan) yang mantan pemain Liga Indonesia, di tempat mereka sama-sama berlatih fitness. [Dok. Arfi Zon]
Arfi Zon bersama kenalan barunya, Saphou Lassy (kanan) yang mantan pemain Liga Indonesia, di tempat mereka sama-sama berlatih fitness. [Dok. Arfi Zon]

Bolatimes.com - Timnas Indonesia benar-benar dipermalukan di depan publik sendiri untuk kedua kalinya setelah dilumat Thailand dengan tiga gol tanpa balas pada ajang penyisihan grup G Kualifikasi Piala Dunia 2022, Selasa (10/9/2019) kemarin. Tetapi berita tentang kekalahan skuat Garuda ini bukanlah sesuatu yang mengejutkan, terutama bagi Saphou Lassy.

Mantan pemain yang sempat malang-melintang di beberapa klub Liga Indonesia ini menyebut bahwa anjloknya performa Timnas Merah Putih itu tak lepas dari dosa besar persepakbolaan Indonesia di masa lalu yang dianggapnya bobrok.

Menariknya, cerita ini dituliskan oleh rekan fitness-nya yang kebetulan juga bertemu kemarin di tempat mereka sama-sama berlatih.

Cukup panjang obrolan Lassy dengan sang rekan, yang mencakup tidak saja pengalamannya bermain di Indonesia mulai dari soal penghasilan, pemain dan tim favorit, hingga soal skandal pengaturan skor dan judi sepak bola, namun juga tentang kondisi kekininian di negaranya Gabon.

Berikut isi tulisan menarik yang dibuat Arfi Zon tersebut, berjudul "Saphou Lassy: Musuh Indonesia adalah Orang Indonesia Sendiri" sebagaimana diunggah di akun Facebook-nya, Selasa (10/9/2019), jelang tengah malam:

Hari ini di tempat fitness, saya melihat seorang pria asing datang dan berlatih. Sepertinya orang Afrika. Baru pertama kali ini saya melihat dia. Kemudian saya dekati.

Saya tertarik karena dari perawakannya sepertinya dia atlet sepakbola dan saya merasa familiar dengan wajahnya. Selain itu, yang membuat saya lebih tertarik lagi, karena dia memakai jersey Semen Padang FC, klub sepakbola dari kota asal saya.

Setelah saya tanya, ternyata benar. Dia pernah jadi pemain profesional di Liga Indonesia selama 20 tahun. Sangat lama ternyata. Saphou Lassy namanya. Ketika dia menyebutkan namanya, saya segera ingat. Nama itu memang cukup dikenal, khususnya oleh pencinta sepak bola Indonesia. Pantas saya merasa tak asing dengan wajahnya.

Lassy menyebutkan klub-klub Indonesia yang pernah dia bela sejak tahun 1996 sampai pensiun tahun 2017, yaitu PSMS Medan, Persikota Tanggerang, PSM Makassar, PSS Sleman, PSIM Yogyakarta, Persikasi Bekasi, dan terakhir Persma Manado.

Dia juga bercerita pernah membela tim nasional negaranya, Gabon. Seangkatan dengan ayah Pierre Emerick Aubameyang, mantan bintang Borussia Dortmund yang sekarang meneruskan kebintangannya di klub Liga Primer Inggris, Arsenal.

Meski pernah membela banyak klub Indonesia, ternyata klub favorit Lassy bukanlah salah satu dari klub yang pernah dia bela itu, melainkan Semen Padang FC. Itulah rupanya alasan kenapa hari ini dia memakai jersey Semen Padang. Dia memfavoritkan Semen Padang, karena di era dia masih aktif bermain, Semen Padang sangat bagus dan dia suka dengan permainan Elie Aiboy (legenda Semen Padang).

Terus, saya tanya, apa keperluan dia di Indonesia saat ini? Dia jawab, dia memang masih sering bolak-balik ke Indonesia untuk keperluan bisnis garmen yang saat ini sedang digelutinya.

Menilik pengalaman panjangnya bermain di Indonesia, saya jadi tertarik menggali berbagai pengalamannya selama bermain di Indonesia. Di sela latihan beban yang sedang kami lakukan, saya ajak terus dia ngobrol.

Arfi Zon bersama kenalan barunya, Saphou Lassy (kanan) yang mantan pemain Liga Indonesia, di tempat mereka sama-sama berlatih fitness. [Dok. Arfi Zon]
Arfi Zon bersama kenalan barunya, Saphou Lassy (kanan) yang mantan pemain Liga Indonesia, di tempat mereka sama-sama berlatih fitness. [Dok. Arfi Zon]

Obrolan menjadi enak, karena dia sangat fasih berbahasa Indonesia. "Duapuluh tahun di sini, masa saya tidak lancar berbahasa Indonesia," katanya sambil tertawa, ketika saya sebut Bahasa Indonesia-nya bagus.

Mengenai penghasilan, selama 20 tahun berkarir, Lassy mengaku rata-rata dia dikontrak 300 - 400 juta rupiah setahun dengan gaji 2.500 US dolar per bulan atau setara 35 juta rupiah (jika 1 US dolar = 14 ribu rupiah). Plus dapat fasilitas rumah dan mobil serta bonus-bonus setiap kali meraih kemenangan.

Ketika saya tanya siapa pemain Indonesia favoritnya, Lassy sempat terdiam dan berpikir. "Bambang Pamungkas?" pancing saya. "Bukan. Saya lebih suka Boaz Solossa, dia seorang striker yang komplit," kata Lassy.

Kemudian, saya pancing dia mengenai judi atau praktek-praktek pengaturan skor yang santer diduga marak terjadi di sepakbola Indonesia. Benarkah ada?

Dia langsung antusias bercerita. "Sepakbola Indonesia semua rekayasa. Siapa yang akan juara liga, sudah di-setting. Pertandingan banyak yang hanya sandiwara."

Air muka Lassy tampak serius menceritakan itu. "Bukankah dulu sudah dibuka semua oleh Rochy Putiray (mantan striker timnas Indonesia) di Mata Najwa? Yang diceritakan Rochy itu semua benar," tambahnya.

Waduh... saya kaget, tapi tidak yakin sampai segitu parahnya. Saya kejar, "Bagaimana modusnya? Bagaimana pertandingan itu diatur? Siapa saja yang terlibat?"

Dengan lugas Lassy menjelaskan. Mulai dari oknum pengurus federasi, pengurus klub, wasit, pelatih, dan hampir keseluruhan pemain, terlibat. Dia ceritakan salah satu contoh kasus yang dia alami sendiri saat bermain di P***********a. Saat itu dia melanggar kesepakatan pengaturan skor pertandingan antara klub yang dia bela melawan P***********a (nama-nama klub sengaja ditutupi penulisnya, Red).

Ketika itu sudah diatur bahwa timnya harus kalah 0-2 sebagai bagian dari skenario agar P**********a juara. Namun, Lassy kemudian mencetak gol. Pelatihnya berang, dan dia langsung diganti. Kemudian, di akhir musim kompetisi dia didepak dari klub.

"Nah, dalam kondisi seperti itu tentunya semua pemain terlibat, bukan? Parahnya, hampir seluruh pertandingan penting diatur seperti itu," jelas Lassy.

"Apa yang didapat dari pengaturan skor seperti itu? Kenapa pemain mau saja? Mereka dapat apa?" tanya saya lebih lanjut.

Dengan nada prihatin Lassy kembali menjelaskan. "Ya, begitulah. Pertandingan diatur begitu untuk kepentingan judi sepakbola."

Misal, pengurus sebuah klub membayar ke pengurus klub lawan 1 miliar supaya mau mengalah. Dengan demikian dia bisa memastikan kemenangan timnya. Dengan kepastian kemenangan itu, dia akan memasang taruhan dengan nilai sebesar-besarnya di bandar-bandar judi. Dari hasil judi itu, si pengurus tadi dapat keuntungan berlipat-lipat lebih besar daripada uang yang dia keluarkan untuk membayar pengurus klub lawan supaya mengalah tadi.

"Pemain tidak dapat apa-apa, karena klub beralasan mereka sudah digaji besar. Masa disuruh mengalah saja minta bayaran?"

"Pemain juga tidak punya pilihan selain manut saja. Mereka tidak punya keberanian untuk melawan. Karena mereka takut kehilangan pekerjaannya jika membangkang. Sedangkan saya, kenapa membangkang? Karena saya merasa sebagai pemain profesional harus terus menjaga nilai jual saya. Dan sebagai seorang striker, nilai jual saya tergantung dari jumlah gol yang bisa saya cetak."

Saya tanya, "Memangnya praktek-praktek seperti itu hanya terjadi di Indonesia saja?"

"Tidak, hampir di seluruh dunia, bahkan di pertandingan-pertandingan level internasional sekali pun. Tapi di Indonesia yang paling parah," jelas Lassy.

"Itulah sebabnya kenapa setelah pensiun saya tidak mau lagi terlibat dengan sepakbola. Karena nurani saya tidak bisa lagi menerima kondisi seperti itu."

Kemudian, sambil tersenyum, Lassy berkata, "Indonesia ini negara yang luar biasa, tapi rusak oleh perilaku korup orang-orang Indonesia sendiri. Tak terkecuali dunia sepakbolanya."

Waduh. "Sialan juga nih, si Lassy, mencela orang Indonesia seolah korup semua," gumam saya sebal dalam hati.

"Memangnya negaramu, Gabon, gimana?" gugat saya.

"Ya sama saja, masih banyak korupsi juga. Tapi di sana masih malu-malu, di sini terang-terangan. Bahkan berani korupsi yang mengakibatkan negara terancam. Kamu tau kan, banyak orang Afrika yang menyelundupkan narkoba ke Indonesia? Kamu pikir kenapa itu bisa terjadi kalau bukan karena bekerjasama dengan oknum orang Indonesia sendiri? Bangsamu terlalu gampang disuap. Jadi, musuh Indonesia itu sebenarnya adalah orang Indonesia sendiri," jelasnya bersemangat.

Saya manggut-manggut. Malu juga rasanya dia ceramahi begitu. Tapi mau gimana lagi. Memang banyak benarnya yang dia sebut itu. Akhirnya, saya coba alihkan pembicaraan dengan bertanya tentang negaranya, Gabon. "Bagaimana kondisi Gabon saat ini?" tanya saya.

Nada bicara Lassy tiba-tiba agak turun. "Gabon sekarang kacau," katanya singkat. "Kenapa? Ada perang kah?" saya coba menggali lebih jauh.

"Bukan perang. Hanya saja, saat ini Gabon dipimpin oleh putra diktator yang dulu pernah berkuasa 37 tahun. Nah, sekarang anaknya juga sudah memerintah 5 tahun."

"Kenapa bisa begitu?" kejar saya.

"Ada kepentingan asing pastinya. Prancis mendukung dia. Pastinya ada kepentingan Prancis di sana yang harus mereka jaga dan pertahankan. Oleh karena itulah mereka dukung pemerintah yang bisa mereka kendalikan, dan tentunya tidak ada dukungan yang gratis," urai Lassy prihatin.

Di luar perkiraan saya, ternyata si Lassy ini luas juga wawasannya. Tak terasa, 1 jam lebih kami ngobrol sambil terus berlatih.

Terakhir, saya ajak dia berfoto. Dia tutup logo Semen Padang di kaosnya dengan handuk. "Saya tidak mau mengiklankan Semen Padang. Kalau mau saya iklankan, bayar dong," katanya sambil tertawa.

"Dasar profesional!" kata saya sambil menepuk bahunya.

---
Catatan Redaksi:
Pengunggah tulisan ini, Arfi Zon, selain dikenal rajin dan cukup mahir menulis, adalah juga seorang pegiat olahraga yang terutama menekuni cabang bola basket sejak SMA. Saat ini dia berdomisili di Bogor.

Berita Terkait

Berita Terkini