Boladunia

Kisah Tragis Nii Lamptey, Titisan Pele yang Kariernya Hancur karena Kutukan

Nii Lamptey pemain asal Ghana yang digadang-gadang jadi The Next Pele.

Rauhanda Riyantama

Nii Lamptey saat mengantar Ghana juara Piala Dunia U-17 pada 1991. (Twitter/@FIFAcom)
Nii Lamptey saat mengantar Ghana juara Piala Dunia U-17 pada 1991. (Twitter/@FIFAcom)

Bolatimes.com - Pemain asal Ghana, Nii Lamptey, pernah mendapatkan julukan sebagai ‘The Next Pele’ karena bakatnya yang luar biasa.

Tentu saja, jika seorang pemain mendapatkan julukan ‘The Next Pele’, tentu persepsi pertama yang muncul ialah imaji soal ketajaman dalam mencetak gol dan kemampuan skill individu di atas rata-rata.

Sayangnya, bagi Nii Lamptey, julukan itu justru menghadirkan kepedihan yang mendalam. Sebab, ‘The Next Pele’ seolah menjadi kutukan yang datang untuk menghambat kariernya bersinar.

Ketika itu, Nii Lamptey menjadi pemain yang mencuri perhatian dunia saat tampil bersama timnas Ghana pada ajang Piala Dunia U-16 1989 yang berlangsung di Skotlandia.

Seusai menampilan performa brilian pada pertandingan awal melawan tim tuan rumah, Pele menyanjung Nii Lamptey sebagai penerusnya.

Dua tahun berselang, pada kejuaraan Piala Dunia U-17 1991 yang berlangsung di Italia, Nii Lamptey menjadi pemain yang jauh lebih bersinar dibandingkan bakat-bakat lain seperti Alessandro Del Piero maupun Juan Sebastian Veron.

Sebab, Nii Lamptey sukses membawa timnas Ghana U-17 menjadi juara di akhir turnamen dan dia menyabet status sebagai pencetak gol terbanyak dengan koleksi empat gol.

Karena bakatnya itu, Lamptey kemudian diselundupkan bermodal paspor palsu agar bisa bermain di luar negeri. Sebab, kondisi di kampung halamannya memang tak mendukungnya untuk berkembang.

Ketika itu, dia dibawa oleh kapten timnas Ghana, Stephen Keshi, untuk keluar dari negara asalnya dan bermain bersamanya di klub Belgia, Anderlecht.

Uniknya, saat itu Lamptey baru berusia 15 tahun. Padahal, regulasi setempat mewajibkan pesepak bola profesional minimal berusia 16 tahun. Regulasi di Liga Belgia pun harus diubah untuk mengakomodasi hal ini.

Pada musim debutnya bersama Anderlecht di Liga Belgia, Lamptey langsung mencatatkan tujuh gol dari total 14 penampilannya.

Kemudian, ia sempat menjalani masa peminjaman bersama klub Belanda, PSV Eindhoven dan mencatatkan 10 gol dari total 22 penampilannya.

Sayangnya, mala petaka menghampiri Lamptey ketika ia mulai hijrah ke Liga Primer Inggris pada medio 1994. Saat itu, ekspektasi besar diletakkan di pundak seorang pemain muda.

Nii Lamptey saat berkostum Aston Villa. (Twitter/@avfcplayers)
Nii Lamptey saat berkostum Aston Villa. (Twitter/@avfcplayers)

Lamptey sendiri sempat mengakui bahwa dia mendapat tekanan luar biasa untuk bersinar. “Ekspektasi pada saya sangat, sangat besar,” ujarnya dikutip dari Goal.com.

Saat itu, Lamptey memang tak memiliki modal pendidikan yang cukup untuk menjalani karier di Eropa. Sebab, selama tinggal di Ghana, ia tak mendapatkan pendidikan yang memadai.

Bahkan, ia tak bisa membaca dan menulis. Pada titik inilah, hal itu membawa malapetaka. Sebab, agen asal Italia yang mengurusinya, Antonio Caliendo, justru memanfaatkannya. Lamptey justru dieksploitasi demi kepentingan pribadi sang agen.

Suatu ketika, Lamptey tak mengetahui apabila dia ditipu. Ia baru sadar ketika manajer Aston Villa, Ron Atkinson, memberikan gajinya secara langsung kepadanya.

“Saya ditipu dan banyak dirugikan. Saya bahkan tak tahu bahwa saya berhak atas biaya penandatanganan kontrak,” ujarnya.

Dua pekan kemudian, sang agen tersebut mendatanginya. Sebab, sang agen sempat mendatangi pihak klub untuk meminta gaji Lamptey. Namun, gaji itu sudah diberikan secara langsung kepada Lamptey.

“Dia (agen) sangat marah kepada saya. Ada begitu banyak orang yang menipu saya, cuma hanya demi memenuhi kepentingan pribadi mereka masing-masing,” katanya menjelaskan.

Saat masih berusia muda, Lamptey seperti menanggung beban kerja yang berlebih. Tubuhnya yang baru memasuki tahap perkembangan justru dipaksa untuk bermain dalam banyak pertandingan.

Saat usianya mencapai 20 tahun, Lamptey pun seperti mengalami kelelahan dan masalah cedera yang berulang-ulang datang. Ini tak lain karena eksploitasi berlebihan terhadap tubuhnya.

Kisah permasalahan Lamptey turut menyelinap di kehidupan pribadinya. Dia sempat mengalami nasib nahas ketika kehilangan dua buah hatinya yang bernama Diego dan Lisa.

Mereka dikabarkan mengalami penyakit paru-paru yang cukup langka. Karena sederet permasalahan yang muncul dalam hidupnya itu, dia merasa seperti sedang mendapatkan kutukan.

“Banyak yang mengatakan semua ini disebabkan karena Juju (ilmu gaib yang dipraktikkan di Afrika Barat) dalam sepak bola,” pungkas Nii Lamptey.

Kontributor: Muh Adif Setyawan

Berita Terkait

Berita Terkini