Boladunia

Profil Bukayo Saka, Bocah 19 tahun yang Jadi Perjudian Gareth Southgate

Bukayo Saka ramai menjadi perbincangan setelah gagal melakukan tendangan penalti di final Euro 2020

Irwan Febri Rialdi

Selebrasi Bukayo Saka usai mencetak gol untuk kemenangan Timnas Inggris atas Austria. (LINDSEY PARNABY / POOL / AFP)
Selebrasi Bukayo Saka usai mencetak gol untuk kemenangan Timnas Inggris atas Austria. (LINDSEY PARNABY / POOL / AFP)

Bolatimes.com - Nama Bukayo Saka menjadi perbincangan di final Euro 2020. Winger milik Arsenal ini menjadi pergunjingan karena kegagalannya mengeksekusi penalti yang membuat Inggris tumbang di tangan Italia.

Inggris harus merelakan trofi Euro 2020 jatuh ke tangan Italia setelah tendangan penalti Bukayo Saka mampu ditepis Gianluigi Donnarumma.

Tim nasional berjuluk The Three Lions ini sejatinya bisa saja meraih gelar Euro 2020 andai mampu mempertahankan keunggulan satu gol yang Inggris cetak di menit-menit awal lewat Luke Shaw.

Akan tetapi, Leonardo Bonucci membawa Italia kembali ke pertandingan dengan membobol gawang Inggris di menit ke-67 memanfaatkan kemelut di muka gawang.

Skor 1-1 pun tetap bertahan hingga waktu normal usai. Pun di perpanjangan waktu, skor 1-1 tetap tak berubah karena kedua tim urung mencetak gol.

Alhasil, laga dilanjutkan ke drama adu penalti. Di babak tos-tosan ini, tiga penendang terakhir yakni Marcus Rashford, Jadon Sancho dan Saka gagal mengeksekusi penalti.

Kegagalan Bukayo Saka menjadi eksekutor pun memastikan Italia menjadi kampiun Euro 2020. Tak ayal, ia menjadi bahan olok-olok di dunia maya, dan parahnya lagi, menjadi korban rasisme.

Profil Bukayo Saka

Menjadi korban rasisme pendukung sendiri bukanlah pilihan Bukayo Saka saat menjadi pesepak bola. Ia hanyalah pemuda berusia 19 tahun yang ingin mengharumkan nama Inggris di kancah dunia.

Saka bisa saja tak membela Inggris dan memilih bergabung Nigeria, negara asal kedua orang tuanya yang merupakan imigran di Inggris.

Namun, darah Nigeria tak menghalangi niatan Saka membela Inggris, tanah tempatnya dilahirkan pada 5 September 2001 silam.

Karena lahir di London, Inggris, Saka pun menjalani karier sepak bolanya di London dengan bergabung Hale End Academy yang tak lain akademi Arsenal pada usia 7 tahun pada 2008 lalu.

Karier Saka bersama Arsenal sendiri terbilang cepat karena ia hanya butuh 11 tahun saja untuk menembus skuat utama The Gunners.

Debutnya bersama tim utama Arsenal terjadi pada 29 November 2018 melawan Vorskla Poltava di Liga Europa saat usianya baru 18 tahun.

Saka menjadi pemain reguler di tim utama pun pada musim 2019-2020 di mana ia mulai mendapat menit bermain yang banyak dan menjadi andalan Arsenal.

Dari posisi bek kiri hingga penyerang sayap dilakoni oleh remaja berusia 19 tahun ini. Dinukil dari Transfermarkt, total 88 laga telah dijalani Saka bersama Arsenal dengan torehan 11 gol dan 21 assist atas namanya.

Jadi Korban Perjudian Gareth Southgate

Menunjuk Bukayo Saka untuk menjadi eksekutor penentu atau penendang kelima di drama adu penalti adalah perjudian buruk dari Gareth Southgate di final Euro 2020 antara Italia vs Inggris.

Southgate mengakui kesalahannya tersebut. Alasannya memilih Saka tak lepas dari fakta selama latihan tim nasional Inggris.

“Ini keputusan saya. Saya yang memutuskan penendang penalti berdasarkan apa yang pemain lakukan dalam latihan. Tidak ada yang mengambil keputusan sendiri,” ucap Southgate dikutip dari Football Italia.

Keputusan tersebut berbuah kecaman kepada Southgate mengingat usia Saka barulah 19 tahun. Untuk pemain semuda itu, menjadi eksekutor penentu adalah sebuah hal konyol.

Alan Shearer, penyerang legendaris Inggris, menjadi sosok yang paling keras mengecam keputusan Southgate menunjuk tiga pemain muda untuk menjadi eksekutor terakhir.

“Para pemain berada di bawah tekanan, tapi jika Anda meminta dua pemain yang belum sering menyentuh bola untuk menendang (penalti), Anda terlalu berlebihan.

“Saya bersimpati kepada Marcus Rashford, Jadon Sancho dan Bukayo Saka. Para pemain muda ini harus hidup dengan itu (kegagalan). Itu sangat buruk,” kecam Shearer.

Pada akhirnya, perjudian Southgate tak hanya mengubur mimpi tim nasional Inggris untuk mengakhiri puasa gelar selama 55 tahun.

Perjudian itu nyatanya juga menjadikan Bukayo Saka harus menanggung kegagalan itu di usia muda serta rasisme yang ia terima sejauh ini dari khalayak luas.

Kontributor: Zulfikar Pamungkas Indrawijaya

Berita Terkait

Berita Terkini