Boladunia

Gagal Eksekusi Penalti: Rashford, Sancho, dan Saka Alami Pelecehan Rasial

Rashford, Sancho, dan Saka alami pelecehan rasial di media sosial.

Rauhanda Riyantama

Bukayo Saka tertunduk lesu usai gagal eksekusi penalti sehingga Inggris gagal juara Euro 2020. (PAUL ELLIS / POOL / AFP)
Bukayo Saka tertunduk lesu usai gagal eksekusi penalti sehingga Inggris gagal juara Euro 2020. (PAUL ELLIS / POOL / AFP)

Bolatimes.com - Tiga pemain Timnas InggrisMarcus Rashford, Jadon Sancho, dan Bukayo Saka, dilaporkan mengalami tindak rasial di media sosial. Persoalannya karena mereka gagal mengeksekusi tendangan penalti sehingga The Three Lions gagal juara Euro 2020.

Seperti diketahui, Rashford, Sancho, dan Saka gagal menunaikan tugasnya saat ditunjuk sebagai eksekutor penalti di laga final Euro 2020 lawan Timnas Italia, Senin (12/7/2021) dini hari WIB. Alhasil, Inggris kalah dengan skor 2-3.

Mendengar kabar tersebut, Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA) mengecam aksi pelecehan rasial terhadap Marcus Rashford, Jadon Sancho,  dan Bukayo Saka. FA mengatakan bahwa mereka mengutuk dengan aksi pelecehan tersebut.

Sebelum pertandingan dimulai, para pemain Timnas Inggris melakukan aksi berlutut untuk menyoroti perjuangan melawan ketidaksetaraan rasial.

"Kami tidak bisa menjelaskan bahwa siapa pun di balik perilaku menjijikkan seperti itu tidak diterima untuk mengikuti tim," kata FA, dalam sebuah pernyataan yang dikutip Antara dari BBC Sport.

"Kami akan melakukan semua yang kami bisa untuk mendukung para pemain yang terkena dampak sambil mendesak hukuman seberat mungkin bagi siapa pun yang bertanggung jawab."

"Kami akan terus melakukan segala yang kami bisa untuk menghapus diskriminasi dari sepak bola, tetapi kami memohon pemerintah untuk bertindak cepat dan membawa undang-undang yang sesuai sehingga penyalahgunaan ini memiliki konsekuensi di kehidupan nyata."

"Perusahaan media sosial perlu menjadi lebih baik dan mengambil akuntabilitas serta tindakan untuk melarang pelaku (rasial) dari platform mereka, mengumpulkan bukti yang dapat mengarah pada penuntutan dan dukungan untuk membuat platform mereka bebas dari jenis penyalahgunaan ini."

Berita Terkait

Berita Terkini