Boladunia

Setan Merah Melempem di Liga Champions, Berdosakah Mourinho?

Kalah agregat 2-1, Manchester United tersingkir dari ajang Liga Champions.

Syaiful Rachman

Kolase foto MU usai tersingkir dari ajang Liga Champions [AFP]
Kolase foto MU usai tersingkir dari ajang Liga Champions [AFP]

Bolatimes.com - Serangan dilancarkan Sevilla. Waktu yang semakin mepet pun membuat anak-anak asuh Jose Mourinho semakin frustasi, hingga gelandang serang seperti Marcus Rashford ikut turun gunung membantu pertahanan.

Gabriel Mercado pun menjadi korban. Pemain Sevilla itu didorong oleh Rashford yang sudah terlihat sangat tegang. Mendapat kartu kuning, Rashford makin frustasi dan melayangkan protes. Namun wasit Danny Makkelie asal Belanda memilih untuk tidak menanggapi dan meniup peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan.

Para pemain Sevilla bersorak kegirangan. Skor 1-2 yang terpampang gagah di salah satu sudut Old Trafford, memastikan satu tiket perempat final bagi anak-anak asuh Vicenzo Montella, mengingat keberhasilan tim berjuluk Sevillistas bermain imbang tanpa gol di Estadio Ramon Sanchez Pizjuan di leg pertama.

Sementara pemain MU, hanya bisa tertunduk. Menyalami para pemain lawan satu-persatu dengan wajah murung. Tidak terkecuali Mourinho, yang menyalami Montella dengan penuh senyum kepalsuan dan langsung beranjak memasuki lorong menuju kamar ganti.

Menyusul kegagalan Manchester United di Liga Champions musim ini, semua media langsung tertuju pada sosok sang arsitek, Mourinho. Beragam pertanyaan pun ditujukan pada manajer asal Portugal dalam jumpa pers usai pertandingan, mengorek isi kepala sang peracik strategi demi memuaskan dahaga informasi yang berkutat di kepala mereka.

Tidak ketinggalan juga mantan pemain MU dan pengamat sepak bola yang ikut angkat bicara, membeberkan dosa Mourinho menyusul tersingkirnya Setan Merah dari kompetisi kasta tertinggi benua biru.

Pemain MU Marouane Fellaini berebut bola dengan pemain Sevilla [AFP]

Menunjuk Fellaini sebagai dirigen pertandingan

Di pertandingan tersebut, Mourinho mengambil langkah berani dengan menunjuk Marouane Fellaini sebagai playmaker alias pengatur tempo. Namun langkah berani tersebut harus di bayar mahal oleh manajer asal Portugal. Pemain berambut kribo itu memainkan tempo yang terlalu lamban.

Hal itupun berujung dengan banyaknya ruang yang terbuka bagi pemain lawan. Faktanya, di laga itu para penggawa Setan Merah kerap terlambat menutup ruang gerak dari Ever Banega dan Steven N'Zonzi. Di sepanjang babak pertama, tercatat Banega dengan leluasa melepaskan 49 passing yang sukses mendarat di kaki para penyerang Sevilla.

Di babak kedua pun, kegagalan para pemain MU menutup ruang gerak Banega dan N'Zonzi harus dibayar mahal setelah nama terakhir meneruskan bola ke Joaquin Correa dan Correa melepaskan umpan terobosan yang disambut akselerasi cepat Wissam Ben Yedder untuk menyarangkan bola ke pojok kiri gawang De Gea.

Pemain MU Paul Pogba masuk menggantikan Marouane Fellaini di menit 60 [AFP]

Mou terlambat redam ego

15 menit sudah bola bergulir di babak kedua. Teriakan dari tribun penonton pun semakin santer, "serang...serang...serang!"

Mendengar gema emosi di dalam stadion, ego Mourinho pun runtuh. Manajer asal Portugal mengesampingkan rasa kesalnya pada Paul Pogba dan memasukkan gelandang asal Prancis itu.

Tugas Pogba sudah sangat jelas, yaitu menggantikan Fellaini sebagai dirigen serangan.

mencoba sedikit menebak strategi 4-2-3-1 Mourinho, secara teori, bersama Nemanja Matic, Fellaini harusnya mensuplai bola dan membuka ruang bagi empat pemain yang ada di depannya; Jesse Lingard, Marcus Rashford, Alexis Sanchez dan Romelu Lukaku untuk merusak pertahanan Sevilla.

Tapi masalahnya, Fellaini tidak bisa melihat dengan jeli di mana posisi yang paling tepat untuk menempatkan bola ketika United membangun serangan. Dengan kata lain, tanpa kehadiran Pogba, ada sedikit kurang rasa percaya diri di kubu tuan rumah yang seharusnya tidak kesulitan menghadapi penghuni kelima papan klasemen sementara La Liga.

"Cara @ManUtd bermain di Old Trafford hari ini untuk membalikkan serangan @SevillaFC sangat buruk. Khususnya pemain yang bertugas memainkan tempo, sangat lambat dan terlalu berhati-hati saat menguasai bola. Pasif," kicau mantan kapten United Rio Ferdinand @rioferdy5.

"Lini depan @ManUtd harusnya menjadi momok menakutkan...tim tidak bisa mengeluarkan kemampuan terbaik mereka. Lukaku sering terisolasi, winger ikut bertahan terlalu dalam, tim bermain terlalu dalam di setengah lapangan sendiri...dengan kata lain mereka (MU) takut," cuitnya lagi.

Namun diakhir laga, bisa dikatakan Mourinho terlambat meredam egonya. Pogba hanya memiliki waktu 30 menit untuk beradaptasi dengan pertahanan Sevilla dan membuka peluang bagi empat rekannya yang berada di depan. Sebiji gol yang dilesakkan Lukaku pun tak mampu menyelamatkan Setan Merah dari kegagalan.

Pelatih Sevilla Vicenzo Montella [AFP]

Kejelian Montella membaca perubahan strategi Mourinho

Melihat Pogba berteriak-teriak kepada rekan-rekannya, pelatih Sevilla Vicenzo Montella tidak ingin gegabah dan memilih duduk tenang sambil mengamati perubahan yang dibawa gelandang Prancis itu. Lebih dari 10 menit kemudian, Montella pun melirik ke belakang, dan meminta Wissam Ben Yedder bersiap-siap.

Di menit 72 Ben Yedder pun masuk menggantikan Luis Muriel sebagai "targetman". Dalam benak mantan pelatih AS Roma hanya satu, yaitu menginginkan pemain yang memiliki kecepatan untuk menusuk jantung pertahanan United yang akan sedikit terbuka ketika Pogba memberi komando menyerang.

Hanya berselang dua menit, kejelian Montella dalam membaca perubahan strategi Mourinho pun terbukti. Menyambut umpan terobosan Joaquin Correa, Ben Yedder bergerak cepat meloloskan diri dari kawalan Eric Bailly. Tiga bek MU lainnya ikut mengejar, namun sudah terlambat. Bola sudah dilepaskan Ben Yedder dan bersarang ke pojok kiri gawang De Gea. Ben Yedder pun menambah pundi golnya di menit 78.

"Di babak kedua saya senang Ben Yedder membalikkan keadaan. Dialah yang membuat perbedaan. Dia menentukan dan menyelesaikannya dengan baik dalam dua kesempatan," ujar Montella usai pertandingan seperti dikutip Scoresway.

Reaksi Alexis Sanchez setelah MU disingkirkan Sevilla di babak 16 besar Liga Champions [AFP]

Gemar "one man show", tapi Sanchez tetap dipertahankan

Mengandalkan Alexis Sanchez yang baru dibeli dari Arsenal di bursa transfer Januari, mungkin menjadi dosa terbesar Mourinho di paruh kedua musim 2017/18. Seperti diketahui, kedatangan Sanchez ke Old Trafford seakan membuat Mourinho gelap mata dengan mengubah pola permainan Setan Merah yang pada akhirnya berujung dengan kegagalan di Liga Champions.

Tidak bisa disangkal, jika di awal musim United tampil mempesona. Pogba selaku pengatur serangan mampu memfasilitasi rekan-rekannya di lini depan.

Namun kedatangan Sanchez mengubah semuanya. Nada-nada miring dari Old Trafford mulai terdengar yang berujung dengan seringnya Pogba dan Marcus Rashford duduk di bangku cadangan dan posisi Anthony Martial yang bergeser.

Di laga kontra Sevilla, bisa dikatakan seluruh pemain MU tampil jauh di bawah standar. Terlebih Alexis Sanchez yang tampil buruk di sepanjang laga. Menurut catatan Opta, Sanchez kehilangan bola sebanyak 42 kali dalam laga itu. Catatan yang membuat fans Setan Merah semakin geram dengan kebijakan manajer asal Portugal.

"Sanchez untuk saat ini tidak layak berada di tim. Dia terlalu individualistis. Dia juga sering kehilangan bola," ujar mantan pemain Arsenal yang kini aktif sebagai pundit Skysports, Charlie Nicholas.

"Saya yakin banyak fans Manchester United yang merasakan hal ini dan berkata 'kapan dia (Sanchez) akan melakukan sesuatu untuk kita?'," tambahnya.

Striker Sevilla Wissam Ben Yedder menjebol gawang David de Gea [AFP]

Berita Terkait

Berita Terkini