Bolaindonesia

Kisah Indonesia Pilih Buang Tiket ke Piala Dunia daripada Lawan Israel

Kala itu, karena alasan politis, Timnas Indonesia memilih mundur daripada bermain melawan Israel

Irwan Febri Rialdi

Pemain Timnas Indonesia era 1950-an. (Dok Historia)
Pemain Timnas Indonesia era 1950-an. (Dok Historia)

Bolatimes.com - Timnas Indonesia sebetulnya nyaris saja tampil pada Piala Dunia untuk kali pertama. Namun, akhirnya memilih membuang kesempatan itu karena alasan politis.

Momen itu tepatnya terjadi pada babak Kualifikasi Piala Dunia 1958. Timnas Indonesia menjadi salah satu tim kuat Asia berpeluang besar lolos ke putaran final.

Sebab, pada era 1950-an, skuad Merah Putih menjadi salah satu kesebelasan yang cukup kuat di kawasan Asia. Nama-nama pemain timnas yang mentereng saat itu ialah Maulwi Saelan, Ramang, dan Tan Lion Hou.

Karena kekuatan timnas Indonesia yang disegani itu, maka tak heran apabila mendapatkan julukan sebagai Macan Asia.

Setidaknya, beberapa prestasi skuad Merah Putih yang cukup mentereng ketika itu ialah finis di urutan keempat Asia Games 1954.

Bahkan, Indonesia juga sukses melaju hingga putaran final Olimpiade Melbourne 1956. Kiprah itu terus berlanjut hingga Kualifikasi Piala Dunia 1958 zona Asia-Afrika.

Sebagai informasi, ini adalah babak Kualifikasi Piala Dunia yang pertama bagi timnas Indonesia sejak mendapat kemerdekaan pada 1945.

Pada babak prakualifikasi, timnas Indonesia sukses melaju mulus karena Taiwan memilih walk-out (WO). Setelah itu, timnas Indonesia maju ke babak kualifikasi putaran pertama dan tergabung dengan Tiongkok.

Satu kontestan lain yang sebetulnya saat itu juga dihadapi timnas Indonesia ialah Australia. Namun, mereka memilih mundur.

Duel pertama melawan Tiongkok berlangsung di Stadion Ikada (saat ini Lapangan Monas) pada 12 Mei 1957. Saat itu, laga disaksikan 80 penonton yang hadir di Jakarta.

Timnas Indonesia sukses menang 2-0. Dari pemberitaan saat itu, mantan pemain PSM Makassar, Ramang, yang menjadi bomber andalan timnas Indonesia mencetak gol salto yang memukau.

Kemenangan ini menjadi modal penting bagi skuad Merah Putih untuk menghadapi laga kedua melawan Tiongkok. Saat duel kedua digelar di Xiannongtan Stadium, Bejing, laga berakhir dengan skor 4-3 untuk kemenangan tim tuan rumah.

Karena sama-sama meraih kemenangan, kedua tim harus melewati babak play-off. Akhirnya, duel diputuskan berlangsung di Yangon, Myanmar, sebagai venue netral.

Akhirnya, pertemuan ketiga itu berakhir imbang tanpa gol. Timnas Indonesia dipastikan lolos karena unggul selisih gol. Sebab, saat itu belum ada babak adu penalti.

Pada babak Kualifikasi putaran kedua, Indonesia tergabung satu grup dengan Sudan, Mesir, dan Israel. Pada titik inilah permasalahan itu muncul.

Tak ada satu pun tim di grup ini yang bersedia bertanding melawan Israel. Mesir dan Sudan memilih sikap tersebut karena faktor Perang Arab-Israel 1946 dan 1956.

Indonesia pun memilih untuk mengikuti jejak kedua negara tersebut. Mereka menolak bertanding karena faktor politis.

Sebab, apabila Indonesia bertanding melawan Israel, hal ini secara tidak langsung mengakui kedaulatan negara Israel. Sebetulnya, beberapa upaya sudah ditempuh Indonesia agar duel melawan Israel digelar di tempat netral.

Namun, FIFA menolak permohonan tersebut hingga akhirnya Indonesia memilih untuk menarik diri dari Kualifikasi Piala Dunia 1958.

“Indonesia yang secarapolitik sedang getol-getolnya mengumandangkan perlawanan terhadap neokolonialisme, menganggap Israel sebagai penjajah rakyat Palestina. Karena itu, menolak bertanding di Israel,” tulis Owen A McBall dalam bukunya Football Villains, dikutip dari Historia.

Kontributor: Muh Adif Setyawan

Berita Terkait

Berita Terkini