Bolaindonesia

HW UMY Mainkan Striker 49 tahun di Liga 3, Jadi Pemain Tertua di Indonesia

HW UMY mainkan Widadi Karyadi saat laga melawan Persig Gunungkidul.

Rauhanda Riyantama

Potret pemain Hizbul Wathan UMY yang berkompetisi di Liga 3 zona DIY. (Instagram/ps_hw_umy)
Potret pemain Hizbul Wathan UMY yang berkompetisi di Liga 3 zona DIY. (Instagram/ps_hw_umy)

Bolatimes.com - Gelaran Liga 3 2021 ini menghadirkan fakta menarik seiring klub asal Yogyakarta, Hizbul Wathan UMY, menurunkan striker berusia 49 tahun bernama Widadi Karyadi.

Widadi Karyadi menancapkan dirinya sebagai pemain tertua di Indonesia saat turun membantu Hizbul Wathan UMY di gelaran Liga 3 zona DIY menghadapi Persig Gunungkidul di Stadion Kridosono, Yogyakarta 20/11/21).

Dalam laga itu, Widadi memang tak mencetak gol. Namun ia tampil penuh selama 90 menit untuk membantu Hizbul Wathan (HW) UMY berlaga.

Widadi mengaku kembali merumput setelah berdiskusi dengan rekannya di PSIM Yogyakarta dulu, Koco Pramono yang kini menjadi pelatih HW UMY.

Dalam pengakuannya, Widadi mengaku kembali turun karena ingin memotivasi pemain muda untuk terus berjuang dalam meraih mimpi di sepak bola.

Pemain kelahiran Bojonegoro, Jawa Timur ini tak hanya turun di satu pertandingan saja. Dilaporkan ia masih rutin berlatih bersama skuad HW UMY dan juga menjalani latihan pribadi seperti jogging secara intens.

Bahkan, Widadi mengaku masih ingin terus bermain hingga tahun depan di kancah profesional meski usianya nanti telah menginjak kepala lima.

Demi mewujudkan hal tersebut, Widadi Karyadi berpedoman untuk tidak malas dalam berlatih dan menjaga pola hidup sehat yang disambung dengan kerja keras.

Legenda PSIM Yogyakarta

Nama Widadi Karyadi sendiri telah malang melintang di sepak bola nasional sejak era 90 an. Ia pertama kali bergabung PSIM Yogyakarta saat usianya baru 18 tahun.

Widadi memutuskan bergabung PSIM setelah datang ke Kota Gudeg pasca bangku SMA di mana ia bertekad melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah sambil bermain bola.

Klub pertamanya di Yogyakarta adalah Sinar Mataram (SM) yang kala itu dimiliki oleh Mujiono yang tak lain bapak kos rekannya kala itu.

Di saat mengikuti kompetisi pramusim Piala Surya Surabaya, bakat Widadi terpancar terang dan membuatnya dilirik oleh klub-klub besar seperti Persebaya Surabaya, PSMS Medan, dan Barito Putera.

Namun Widadi memilih bertahan di PSIM dan membantu Laskar Mataram mengarungi Divisi Utama dan mengabaikan tawaran yang datang karena rasa nyaman yang didapatkannya.

Kontributor: Zulfikar Pamungkas Indrawijaya

Berita Terkait

Berita Terkini