Boladunia

Jadi Provokator, Jonathan Khemdee Dibela Pelatih Thailand

Ia menegaskan bahwa Khemdee bukan provokator keributan

Irwan Febri Rialdi | Adie Prasetyo Nugraha

Pelatih Thailand Alexandre Polking (kiri) merayakan kemenangan tim pada leg pertama pertandingan semifinal sepak bola Piala AFF 2020 melawan Vietnam di Stadion Nasional di Singapura pada 23 Desember 2021. Roslan RAHMAN / AFP
Pelatih Thailand Alexandre Polking (kiri) merayakan kemenangan tim pada leg pertama pertandingan semifinal sepak bola Piala AFF 2020 melawan Vietnam di Stadion Nasional di Singapura pada 23 Desember 2021. Roslan RAHMAN / AFP

Bolatimes.com - Pelatih Timnas Thailand U-23, Alexandre Mano Polking, membela anak asuhnya. Ia membantah tudingan Jonathan Khemdee yang disebut-sebut menjadi provokator dikartu merahnya tiga pemain Timnas Indonesia U-23.

Seperti diketahui, tiga pemain Timnas Indonesia U-23 yakni Firza Andika, Ricky Kambuaya, dan Rachmat Irianto diganjar kartu merah saat melawan Thailand dalam semifinal cabang olahraga SEA Games 2021, Kamis (19/5/2022) sore. Memang kartu merah yang dikeluarkan wasit ada andil dari Khemdee.

Jonathan Khemdee terlihat banyak menyulut emosi pemain-pemain Timnas Indonesia U-23 khususnya di masa perpanjangan waktu 2x15 menit. Ini bermula ketika Khemdee bereaksi berlebihan kepada wasit saat Firza Andhika melanggar salah satu pemain Thailand.

Kondisi itu membuat Irianto nampak kesal hingga mendapat kartu kuning kedua. Ia pun memprovokasi wasit agar Ricky Kambuaya juga diganjar kartu.

Momen ini terjadi di akhir-akhir pertandingan perpanjangan waktu. Saat itu, Thailand sudah unggul 1-0 dan tidak lama langsung memastikan kemenangannya.

"Saya tidak percaya Jonathan (Khemdee) adalah aktor dari keributan. Jonathan memang bermain seperti itu sebagai quarterback. Ia menunjukkan diri sebagai seorang petarung dan itu sudah seharusnya begitu,” kata Alexandre Polking dikutip Matichon Online, Jumat (20/5/2022).

"Mungkin dia menunjukkan determinasi ini di lapangan seperti menyulut api bagi para pemain lain di tim untuk menunjukkan determinasi yang sama," terangnya.

Kekalahan dari Thailand di semifinal ini memperpanjang puasa medali emas Indonesia dari cabang olahraga sepakbola putra. Kali terakhir Indonesia mendapatkannya pada 1991.

Timnas Indonesia U-23 masih menyisakan satu pertandingan lagi untuk perebutan medali perunggu melawan Malaysia. Duel akan tersaji pada Minggu (22/5/2022).

Berita Terkait

Berita Terkini