Liga

Keras, 5 Pelatih Tak Segan Semprot Pemain di Depan Umum

Sejumlah pelatih yang kerap mengkritik pemain di depan umum.

Husna Rahmayunita

Jose Mourinho (Oli Scarff/AFP)
Jose Mourinho (Oli Scarff/AFP)

Bolatimes.com - Pelatih-pelatih top Eropa kerap mengumbar amarah jika klub yang ditanganinya bermain buruk. Tak menutup kemungkinan, sang juru latih menyemprot pemain yang bermain buruk dan menjadikannya kambing hitam di depan umum.

Satu yang paling fenomenal yang kerap memojokkan pemain jika timnya kalah adalah Jose Mourinho. Saat masih melatih Manchester United, misalnya, pelatih asal Portugal ini sempat bersitegang dengan Paul Pogba.

Selain Jose Mourinho, ada juga sejumlah pelatih yang kerap mengkritik pemain di depan umum. Berikut Bolatimes rangkum nama-namanya:

1. Harry Redknapp

Harry Redknapp saat masih menjadi pelatih Timnas Jordania. [PETER PARKS / AFP]
Harry Redknapp saat masih menjadi pelatih Timnas Jordania. [PETER PARKS / AFP]

Manager asal Inggris, Harry Redknapp adalah sosok yang gemar menyalahkan pemain jika tim yang diasuhnya meraih hasil negatif. Salah satunya saat ia masih melatih Tottenham Hotspur.

Pada musim 2009, dia pernah menyemprot salah satu bomber Spurs, Darren Bent. Saat jumpa Portsmouth, laga berkesudahan imbang 1-1.

Sejatinya, Spurs bisa saja menang di akhir laga. Tapi, kans yang didapatkan Bent gagal berujung gol dan di sesi jumpa pers, Redknapp menyemprot Bent.

"Anda tidak akan pernah mendapatkan kesempatan yang lebih baik untuk memenangkan pertandingan daripada itu. Nona (wartawan), saya bisa saja mencetak gol itu.''

"Bent tidak hanya memiliki sebagian dari gawang yang harus dibidik. Tapi, dia memiliki seluruh jaring, dan dia melebarkannya. Luar biasa," katanya.

Alhasil, hubungan Redknapp dan Bent tak harmonis. Si pemain akhirnya meninggalkan tim pada 2009 meski tak menyampaikan bahwa ada konflik antara keduanya.

2. Maurizio Sarri

Manajer Chelsea, Maurizio Sarri, saat memimpin timnya di latihan akhir jelang partai final Liga Europa melawan Arsenal. (OZAN KOSE / AFP)
Maurizio Sarri, saat memimpin Chelsea di latihan akhir jelang partai final Liga Europa melawan Arsenal. (OZAN KOSE / AFP)

Maurizio Sarri punya karier cemerlang saat menangani Napoli. Alhasil, kariernya kemudian berlanjut di Chelsea pada 2018.

Di Stamford Bridge, ia menjalani musim yang cukup luar biasa. Tapi, di pertengahan musim, pelatih asal Italia ini mendapatkan sejumlah persoalan.

Salah satunya kekalahan 0-2 dari Arsenal. Gegara hasil itu, dirinya mulai frustasi dan akhirnya meluapkan kekesalannya bahwa ia kesal dengan para pemainnya.

"Sepertinya kami benar-benar berjuang untuk bangkit menghadapi pertandingan ini. Saya sangat marah dengan pendekatan yang kami terapkan hari ini. Anda dapat menemukan diri Anda dalam kesulitan dari waktu ke waktu,".

"Tapi, kami perlu bereaksi terhadap kesulitan itu jauh lebih baik daripada kami melakukannya hari ini. Itu sama dalam pertandingan kami melawan Tottenham (kalah 1-3). Kami pikir kami akan mengatasi masalah itu. Saya tidak keberatan kalah, tapi saya tidak suka kalah dengan cara seperti ini," ungkap Sarri.

Cara Sarri juga membuat marah para penggemar Chelsea. Tapi, dia akhirnya berhasil memenangkan Liga Europa. Lalu,ia kembali ke Italia bersama Juventus.

3. Sir Alex Ferguson

Mantan pelatih Manchester United, Sir Alex Ferguson saat hadir menyaksikan laga melawan Paris Saint-Germain pada 12 Februari 2019 (Franck Fife/AFP)
Mantan pelatih Manchester United, Sir Alex Ferguson saat hadir menyaksikan laga melawan Paris Saint-Germain pada 12 Februari 2019 (Franck Fife/AFP)

Dalam suatu kesempatan, Sir Alex Ferguson pernah bilang bahwa tak akan menyemprot pemainnya di depan umum. Namun, pelatih legendaris Manchester United akhirnya mengingkari ucapannya sendiri.

Salah satunya saat dia mengkritik Cristiano Ronaldo. Ketika itu, pemain Timnas Portugal itu berencana pindah dari Old Trafford pada 2009.

"Sulit ketika pemain yang ingin menghibur tidak mendapatkan segalanya dengan caranya sendiri. Tapi, anda tidak bisa mendapatkan semuanya dengan cara anda sendiri," ujar Ferguson.

4. Jurgen Klopp

Pelatih Liverpool, Jurgen Klopp memberikan arahan pada para pemainnya saat menghadapi Napoli di laga penyisihan Liga Champions, Rabu (18/9/2019) dini hari tadi. Pada laga itu Liverpool harus menyerah 0-2 dari Napoli. [ALBERTO PIZZOLI / AFP]
Pelatih Liverpool, Jurgen Klopp memberikan arahan pada para pemainnya saat menghadapi Napoli di laga penyisihan Liga Champions, Rabu (18/9/2019) dini hari tadi. Pada laga itu Liverpool harus menyerah 0-2 dari Napoli. [ALBERTO PIZZOLI / AFP]

Jurgen Klopp buka tipe pelatih yang gemar menyalahkan pemainnya di depan media. Metode pendekatan Klopp jika ada masalah ialah memanggil pemainnya dan berdiskusi satu lawan satu dalam memecahkan masalah.

Tapi, tidak saat Liverpool kalah 1-4 saat jumpa Tottenham Hotspur. Ketika itu, dia menyemprot Dejan Lovren yang menghasilkan dua gol awal Spurs dan dia diganti setelah bermain 31 menit.

"Gol pertama adalah sedikit lemparan ke dalam dan kami tidak benar-benar ada di sana. Itu hanya sangat buruk, buruk, pertahanan yang buruk. Yang kedua, serangan balik. Saat bola melewati Lovren, sudah terlambat,"

"Jika saya terlibat dalam situasi ini di lapangan, maka Harry (Kane) tidak bisa mendapatkan bola. Itu tidak akan terjadi jika saya berada di lapangan. Tapi, saya berada di tengah-tengah area teknis pelatih," kata Klopp saat itu.

5. Jose Mourinho

Jose Mourinho. (Twitter/@ScoutedFtbl).
Jose Mourinho. (Twitter/@ScoutedFtbl).

Jose Mourinho adalah pelatih yang terkenal melimpahkan kesalahan anak asuhnya ke media. Asal hasil kalah yang didapatkan timnya, anak asuhnya menjadi kambing hitam.

Mourinho pernah mengkritik Paul Pogba dan Luke Shaw pada banyak kesempatan selama waktunya di Manchester United. Selain itu ada Tanguy Ndombele di Tottenham Hotspur.

Jauh sebelumnya, saat tiba pertama kali melatih Chelsea pada 2004, dia pernah mengkritik Joe Cole. Ketika itu, eks gelandang Timnas Inggris itu bermain buruk meski sudah mencetak gol.

Kontributor: Kusuma Alan

Berita Terkait

Berita Terkini