Bolatainment

Kisah Atlet Lari AS Tuntut Nike dan Pelatih karena Pelecehan Seksual

Mary Cain mengaku mendapat serangan yang membuatnya tertekan.

Husna Rahmayunita

Mary Cain, pelari Amerika Serikat. (Instagram/@runmarycain)
Mary Cain, pelari Amerika Serikat. (Instagram/@runmarycain)

Bolatimes.com - Kejadian tak mengenakan dialami pelari cantik Amerika Serikat, Mary Cain usai Nike menyorot secara berlebihan bagian sensitifnya.

Entah apa yang menjadi niat Nike setelah menyinggung bagian sensitif Mary Cain, pelari cantik asal Amerika Serikat.

Mary Cain dikabarkan mengajukan gugatan terhadap Nike dan pelatihnya sendiri atas dugaan pelecehan seksual yang diterimanya.

Delapan tahun yang lalu, pada 2013 saat Mary Cain bergabung dengan kelompok pelatihan yang disponsori Nike bernama Proyek Oregon Nike.

Setahun setelahnya Cain sukses menyabet medali emas lari nomor 3.000 meter di ajang Kejuaraan Dunia, tujuh tahun setelah itu barulah terungkap.

Cain mengaku jika Alberto Salazar yang saat itu menjadi pelatihnya melancarkan beberapa serangan emosional terhadap dirinya.

Diakui oleh Cain, serangan itu membuat hidunya sangat tertekan dan bermasalah dengan gangguan makan, sindrom stres pasca trauma hingga kecemasan.

Hal itu tertuang dalam gugatan yang diajukan Cain, ia menyebut bagaimana sang pelatih melecehkan dirinya secara seksual dengan membawa bagian tubuh sensitif.

Dikutip dari The Guardian, Cain merasa trauma dengan ucapan Salazar yang menjurus ke pelecehan seksual, sempat akan berkonsultasi dengan dokter tapi dilarang.

Salazar menjadi biang kerok pelarangan itu, padahal ayah Cain diketahui berprofesi sebagai dokter.

"Salazar mengatakan kepadanya bahwa dia terlalu gemuk dan payudara serta bokongnya terlalu besar," bunyi gugatan Cain.

"Dia mencegah Cain untuk berkonsultasi dan mengandalkan orang tuanya, terutama ayahnya yang seorang dokter," imbuhnya.

Sementara itu, melalui penjelasan pengacara Cain, Kriten West McCall menyebut pihak Nike yang mengetahui kejadian itu malah membiarkannya.

McCall menegaskan jika hal itu dilakukan Nike demi mendapat kepuasan seseorang dan keuntungan bagi brand tersebut.

Atas kejadian ini, Nike dituntut untuk bertanggung jawab atas perilaku pelatih mereka yang dinilai sudah merusak atlet mereka.

Sementara itu menurut laporan RT.com, Cain akhirnya bersuara pada 2019 lalu dengan menyebut Nike dan Salazar sama-sama memaksanya untuk menurunkan berat badan.

"Dia pelatih yang paling terkenal, merupakan tim dengan atlet tercepat di dunia dan merupakan mimpi yang menjadi kenyataan," ucap Mary Cain.

"Saya dilecehkan secara emosional dan fisik oleh sistem yang dirancang Salazar, hal itu bahkan mendapat dukungan dari Nike.

"Saya tidak mencoba mengejar Olimpiade, saya hanya bertahan. Hingga akhirnya memilih hal paling menyakitkan yakni keluar dari tim,"

"Saya terjebak dalam sistem yang dirancang dan oleh untuk pria yang menghancurkan tubuh dari gadis-gadis muda." imbuhnya.

Kontributor: Eko

Berita Terkait

Berita Terkini