Arena

Singapore Open Resmi Batal, Gloria Cuma Bisa Pasrah

BWF resmu membatalkan turnamen Singapore Open

Irwan Febri Rialdi

Pasangan ganda campuran Indonesia, Hafiz Faizal/Gloria Emanuelle Widjaja, melaju ke babak ketiga Kejuaraan Dunia Bulutangkis 2018 usai mengalahkan Pranaav Jerry Chopra/Reddy N. Sikki (India), Selasa (31/7). [Humas PBSI]
Pasangan ganda campuran Indonesia, Hafiz Faizal/Gloria Emanuelle Widjaja, melaju ke babak ketiga Kejuaraan Dunia Bulutangkis 2018 usai mengalahkan Pranaav Jerry Chopra/Reddy N. Sikki (India), Selasa (31/7). [Humas PBSI]

Bolatimes.com - Pebulu tangkis ganda campuran, Gloria Emanuelle Widjaja, turut buka suara atas keputusan Federasi Bulu tangkis Dunia (BWF) yang membatalkan turnamen Singapore Open karena COVID-19.

Melalui keterangan tertulis PBSI di Jakarta, Rabu, dia memaklumi keputusan tersebut karena nyatanya situasi masih dalam keadaan yang tidak menentu.

"Jujur saya lebih berserah dengan apa yang terjadi. Masalahnya memang keadaan yang tidak pasti dan tidak jelas, ini menyangkut kesehatan seluruh pihak," kata Gloria.

Kendati begitu, atlet yang berpasangan dengan Hafiz Faizal ini menilai keputusan yang dikeluarkan BWF merupakan sikap yang tidak adil, terutama bagi pebulu tangkis di kawasan Asia yang terdampak.

Akibat pembatalan ini, Hafiz/Gloria gagal meraih kesempatan mengamankan tiket ke Olimpiade Tokyo setelah sebelumnya tergeser dari peringkat delapan ke sembilan.

Singapore Open, dan Malaysia Open yang terlebih dulu dibatalkan, menjadi dua turnamen kunci bagi Hafiz/GLoria yang menentukan ganda campuran tersebut lolos kualifikasi Olimpiade.

Kekecewaan juga dirasakan pelatih ganda campuran Pelatnas Cipayung, Richard Mainaky, dengan menyebut kedua pembatalan tersebut adalah kerugian besar bagi anak didiknya.

"Saya anggap BWF tidak adil. Seharusnya kejuaraan Eropa silahkan berjalan, tapi jangan dimasukan sebagai kualifikasi Olimpiade Tokyo. Jelas ini tidak adil karena hanya menguntungkan atlet Eropa," Richard menegaskan.

Ia pun mendukung jika PBSI melakukan diskusi dengan BWF agar dilakukan penyesuaian atau perubahan kembali. Harapannya BWF bisa mengambil kebijakan dan keputusan yang adil bagi seluruh atlet. (Antara)

Berita Terkait

Berita Terkini