Arena

Merinding, Susy Susanti Pernah Lihat Hal Mistis di Arena Malaysia Open 2019

Legenda bulutangkis Indonesia, Susy Susanti pernah lihat hal mistis di Axiata Arena, Malaysia. Dia lihat dua kaki raksasa yang tak kasat mata.

Galih Priatmojo

Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PBSI, Susy Susanti, dalam acara konferensi pers Indonesia Masters 2019 di Hotel Sultan, Senayan, Jakarta, Senin (21/1/2019). [Humas PBSI]
Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PBSI, Susy Susanti, dalam acara konferensi pers Indonesia Masters 2019 di Hotel Sultan, Senayan, Jakarta, Senin (21/1/2019). [Humas PBSI]

Bolatimes.com - Siapa sangka arena tempat para pebulutangkis berlaga di Malaysia Open 2019 menyimpan kisah mistis yang bikin bulu kuduk merinding. Salah satu legenda bulutangkis Indonesia, Susy Susanti pernah mengalaminya. 

Perempuan yang kini menjabat sebagai Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi (Kabid Binpres) PBSI, itu berkisah pernah menyaksikkan sebuah peristiwa mistis di Axiata Arena, Kuala Lumpur, yang kini tengah menggelar turnamen Malaysia Open 2019.

Susy Susanti mengatakan jika pada awalnya kurang percaya dengan hal-hal bersifat gaib. Namun, kejadian yang menimpa dua pemain Indonesia saat berlaga di SEA Games 2017 di Axiata Arena, sedikit mengubah pandangannya.

Saat itu, dua pemain Indonesia yang mengalami cedera adalah Edi Subaktiar dan Rosyita Eka Putri Sari. Keduanya dibekap cedera yang cukup identik, yakni lutut kiri, di lapangan 1 Axiata Arena saat menghadapi wakil Malaysia.

Axiata Arena Malaysia yang dipakai untuk menggelar turnamen batminton Malaysia Open 2019, dikenal menyimpan cerita mistis. [suara.com]
Axiata Arena Malaysia yang dipakai untuk menggelar turnamen bulutangkis Malaysia Open 2019, dikenal menyimpan cerita mistis. [suara.com]

 

Edi Subaktiar yang berpasangan dengan Gloria Emanuelle Widjaja di sektor ganda campuran harus mundur dari laga pertama nomor perorangan saat menghadapi Chan Peng Soon/Cheah Yee See. Saat itu skor menunjukan 5-8 untuk keunggulan wakil Malaysia.

Sementara Roysita Eka Putri Sari terlebih dahulu mengalami cedera, saat menghadapi ganda putri Malaysia, Vivian Hoo/Woon Khe Wei di babak semifinal nomor beregu putri.

Saat itu Roysita Eka Putri Sari yang berpasangan dengan Ni Ketut Mahadewi Istarani mengalami cedera lutut kiri, saat kedudukan menunjukkan skor 5-7 untuk keunggulan wakil Malaysia.

"Edi Subaktiar waktu di SEA Games 2017 Malaysia mendapatkan cedera. Dan itu di lapangan yang sama, saat skornya juga hampir sama (dengan Rosyita yang mengalami cedera serupa)," kata Susy Susanti saat ditemui Suara.com di Pelatnas PBSI, Cipayung, Jakarta Timur, beberapa waktu lalu.

Pada awalnya Susy Susanti mengaku tak sedikitpun berpikir bahwa kejadian yang dialami Edi dan Roysita ada sangkut pautnya dengan hal-hal mistis. Namun, ketika melihat foto-foto saat Edi cedera, ia merasa ada sesuatu yang ganjil meski bersikeras bahwa cedera seseorang adalah masalah nasib.

"Waktu itu di lapangan (lapangan 1 Axiata Arena) tidak ada apa-apa. Namun saat melihat fotonya, ya tidak tahu benar atau bagaimana, saya melihat dua telapak kaki besar di situ," ujar Susy Susanti.

"Akan tetapi, semua balik lagi ke kita. Di mana-mana mungkin ada (hal-hal mistis)," sambungnya.

Sebelum kejadian pada SEA Games 2017, Susy Susanti mengatakan sempat mendapat kejadian ganjil saat masih berseragam Merah Putih. Ia dan rekan sepelatnas mendapat "gangguan" saat bertanding di Thomas & Uber Cup 1988 yang berlangsung di Malaysia.

Saat itu, kata Susy Susanti, ia dan rekan-rekannya sempat terjebak di sebuah lift hotel dalam keadaan yang cukup lama, sebelum akhirnya bisa keluar dengan selamat.

"Pada 1988, saat kejuaraan Thomas & Uber di Malaysia, kami tertahan di lift selama 45 menit. Saat itu kami tertahan di lantai 13, tanggal 13, dan saat itu kami ber-13 orang," beber Susy Susanti.

"Setelah itu, juga terjadi saat kami sedang berenang. Kaca kantor yang besar, jatuh ke bawah, dan pecahannya mengenai kami semua," kisahnya.

Meski mengakui jika turnamen di Malaysia kerap kali menyajikan pengalaman ganjil baginya, Susy Susanti tetap yakin jika usaha dan kerja keraslah yang membuat seorang pemain berhak meraih gelar juara.

Menurutnya, hal-hal aneh seperti yang sebelumnya ia alami dipandangnya sebagai pengalaman berharga selama kariernya sebagai pebulutangkis. Hal itupun disebutnya tak banyak berpengaruh dengan prestasinya di atas lapangan.

"Namun semua itu tergantung ya, buktinya saya di Malaysia berhasil mendapatkan enam gelar juara (4 Malaysia Open, 2 SEA Games). Balik lagi, hal itu tergantung kita," pungkasnya.

Berita Terkait

Berita Terkini