Liga

3 Sisi Gelap Liga Inggris yang Tak Banyak Orang Tahu

Tak dipungkiri Premier League merupakan salah satu kompetisi terelit di muka bumi. Namun, ada sisi gelap yang tak banyak orang tahu

Irwan Febri Rialdi

Para pemain Liverpool berpose dengan trofi juara Premier League yang diserahkan usai mengalahkan Chelsea di Anfield. (Paul ELLIS / POOL / AFP)
Para pemain Liverpool berpose dengan trofi juara Premier League yang diserahkan usai mengalahkan Chelsea di Anfield. (Paul ELLIS / POOL / AFP)

Bolatimes.com - Tak dipungkiri Premier League merupakan salah satu kompetisi terelit di muka bumi. Tak ayal, sejumlah pelatih dan pemain beken, ramai singgah berkompetisi di Britania Raya.

Selain itu, bos-bos dari Arab Saudi juga tak ragu menggelontorkan dana besar untuk berinvestasi. Dua di antaranya adalah mengakuisisi Newcastle United dan Man City.

Namun tahukah Anda, Premier League juga punya sisi gelap. Berikut Bolatimes rangkum untuk Anda:

1. Pemain Muda Minim Jam Terbang

Perebutan gelar juara membikin tim-tim Premier League tak ragu menggelontorkan duit untuk membeli pemain. Mahal bukan perkara sulit karena masalah akan selesai dengan uang.

Imbasnya, para pemain muda asli Inggris minim dapat kesempatan bermain. Independent melaporkan bahwa dari 1,5 juta anak muda di Inggris, hanya 180 orang yang bisa main di tim yang berkompetisi di Premier League.

Artinya, hanya 0,012 persen pemain muda yang mendapat jam terbang. Ini adalah catatan yang cukup miris.

2. Gagal Promosikan Talenta Inggris ke Luar Negeri

Tak banyak pemain asli Inggris yang merantau ke negeri lain untuk berkompetisi. Tercatat, hanya 1 pemain yakni Jude Bellingham yang bermain di Bundesliga untuk Borussia Dortmund.

Sebelumnya, ada Jadon Sancho. Namun, si eks Dortmund ini sudau pulang kampung ke Inggris untuk membela Man United.

Perkara impor pemain ini sudah bukan lagu baru di Inggris. Sebab, belum ada pemain Inggris beberapa dekade ini yang bersinar di luar negeri mereka sendiri.

Oleh faktor yang disebutkan di awal bisa jadi adalah penyebabnya. Sebab, talenta-talenta muda sudah dibabat kesempatannya untuk unjuk gigi.

3. Buruknya Mengelola Keuangan

Mengelola keuangan adalah persoalan sulit. Ini yang dialami oleh Leeds United di era 1997-2001.

Ketika itu, Leeds berjaya dengan manajemen keuangan yang ciamik. Pemain-pemain berlabel bintang sempat singgah macam Rio Ferdinand, Harry Keweel, dan Mark Viduka.

Namun, perlahan tata kelola keuangan mereka memburuk. Tiga pemain yang disebutkan di awal dijual dan perlahan membikin Leeds terlilit utang. 

Alhasil, musim 2003 mereka terjun bebas ke Divisi Championship. Untuk bisa kembali ke Premier League dua musim lalu, mereka sempat jatuh bangun.

Kontributor: Kusuma Alan

Berita Terkait

Berita Terkini