Bolatainment

Patrice Evra Mengaku Jadi Korban Pelecehan Seksual, Begini Ceritanya

Saat usia 13 tahun, legenda Manchester United ini menjadi korban pelecehan seksual. Lebih tragisnya, pelakunya adalah kepala sekolahnya SD

Irwan Febri Rialdi

Patrice Evra, saat masih berseragam Manchester United [AFP/Andrew Yates]
Patrice Evra, saat masih berseragam Manchester United [AFP/Andrew Yates]

Bolatimes.com - Mantan bek andalan Manchester United, Patrice Evra mengaku telah menjadi korban pelecehan seksual saat menginap di rumah kepala sekolahnya.

Kejadian memilukan itu diakui Patrice Evra terjadi saat ia masih berusia 13 tahun dan dalam posisi menginap di kediaman kepala sekolahnya.

Melalui sebuah tulisan pada otobiografi terbarunya berjudul 'I Love this Game', Patric Evra menggambarkan neraka yang dialaminya saat itu.

Di awal menginap Patrice Evra merasa tidak ada yang janggal dengan perlakuan kepala sekolahnya, namun lama-kelamaan situasi menjadi aneh.

Hingga pada malam terakhir ia menginap, Evra mengaku kepala sekolah melakukan tindak seksual kepada dirinya dengan cara yang biadab.

"Pada malam terakhir di rumah pria itu, ketika dia tahu bahwa saya akan kembali ke keluarga saya, dia akhirnya berhasil," ucap Evra seperti dikutip dari The Sun.

"Dia memasukkan penisku ke dalam mulutnya." imbuhnya.

Paham bagaimana rasanya menjadi korban pelecehan, Patrice Evra pun tak lupa memberi saran kepada anak-anak muda yang pernah mengalami hal yang sama sepertinya.

Evra mengimbau agar anak-anak tersebut berani untuk bersuara dan melaporkan tindak kejahatan yang dialaminya serta melakukan perlawanan.

Sebaliknya Evra juga meminta agar anak-anak tersebut tidak menyembunyikan hal, karena nantinya hanya akan hidup dengan membawa rasa malu.

"Jika Anda seorang anak yang membaca ini dan Anda dilecehkan, Anda harus berbicara. Jangan membawa rasa malu Anda karena tidak ada rasa malu," tulis Evra lagi.

"Hadapi mimpi burukmu dengan membicarakannya," imbuhnya.

Di usianya yang ke-24 tahun saat masih bermain untuk AS Monaco, Evra pernah dijadikan sebagai saksi atas kasus pelecehan seksual gurunya itu.

Dalam wawancara bersama The Times, Evra tak sanggup menutupi rasa sakit yang dirasakan dengan keluarganya setelah memberi tahu pengalamannya itu.

"Itu adalah momen yang sulit bagi saya. Saya masih harus memberi tahu beberapa saudara lelaki dan perempuan saya dan teman-teman dekat saya," ucap Evra.

"Saya tidak ingin orang merasa kasihan. Ini situasi yang sulit. Seorang ibu tidak berharap untuk mendengar ini dari anak mereka sendiri.

"Dia merasakan sesuatu (yang salah) dan bertanya mengapa saya tidak ingin tidur di rumah guru.Baru sekarang ketika saya berusia 40 tahun, saya memberi tahu dia.

"Itu adalah kejutan besar baginya. Banyak kemarahan. Dia bilang dia menyesal," imbuhnya.

Kontributor: Eko

Berita Terkait

Berita Terkini