Bolatainment

Maradona: Si Tangan Tuhan yang Jadi Pecandu Seks Hingga Budak Kokain

Maradona memiliki segudang bakat luar biasa. Hanya saja kegemilangan itu tak semulus kehidupannya di luar lapangan.

Galih Priatmojo

Diego Maradona saat berada di sesi latihan bersama  Dorados pada 4 Januari 2019 (Pedro Pardo/AFP)
Diego Maradona saat berada di sesi latihan bersama Dorados pada 4 Januari 2019 (Pedro Pardo/AFP)

Bolatimes.com - Nama Maradona tak bisa luput dari perjalanan sejarah sepak bola dunia. Aksinya nan fenomenal di eranya telah memberikan warna tersendiri bagi perkembangan si kulit bundar di masa kemudian.

Dia dilahirkan di sebuah daerah kumuh bernama Lanus, yang masih masuk wilayah Buenos Aires, Argentina pada 30 Oktober 1960. Jenius dalam mengolah si kulit bundar, lelaki yang hanya memiliki tinggi sekitar 160 sentimeter itu pun pernah didaulat sebagai seorang superstar. Lelaki itu adalah Diego Armando Maradona atau yang lebih dikenal dengan nama Maradona 'Si Tangan Tuhan'.

Maradona memiliki segudang bakat luar biasa, khususnya di lapangan hijau. Hanya saja, perjalanan hidup Maradona kerap diwarnai petualangan yang berkaitan dengan narkoba dan seks.

Suatu malam di bulan Januari 1991, Diego Maradona - bintang sepak bola paling terkenal di dunia, yang sedang memperkuat dan membela Napoli di ajang Liga Italia, kedapatan sedang berusaha untuk secara diam-diam memesan dua pekerja seks dari seorang rekan mafia Neapolitan.

Saat itu, Maradona dikenal sebagai sosok yang terisolasi dan demikian lelah karena menerima sanjungan yang tiada henti. Ia terbuai oleh popularitas sebagai pemain sepak bola kondang saat itu.

Akibat popularitasnya itu, ia tidak dapat pergi ke mana pun di Napoli. Ia diburu oleh awak media, lantaran sedang mengalami kecanduan kokain.

Diego Maradona. (Shutterstock)
Diego Maradona. (Shutterstock)

Dalam lintas drama pesanan pekerja seks komersial pada pukul 03:40 dini hari itu, tiba-tiba ada penggemar Napoli yang menyapa sang megabintang.

"Momen itu seperti layaknya komedi yang tragis," kata Asif Kapadia, direktur Senna 2010, dalam film dokumenter Amy Winehouse Amy yang memenangkan Oscar.

Film dokumenter HBO yang baru itu mengisahkan sepenggal kehidupan Diego Maradona dengan menayangkan dinamika perjalanan hidup sang legenda selama tujuh tahun berada di Italia selatan, dari 1984-1991.

"Di sini ada gambaran mengenai seorang lelaki yang berusaha melarikan diri dari ketenaran. Ia kehilangan dirinya dalam kecanduan seks, narkoba, alkohol."

"Itulah penggalan kehidupan Diego," katanya.

Jejak kokain

Pada April di tahun yang sama, ditemukan jejak kokain dalam darah Maradona setelah dilakukan tes narkoba. Ia kemudian dilarang bermain sepak bola selama 15 bulan.

Maradona kemudian melarikan diri dari Italia menuju Argentina. Ia ditangkap aparat kepolisian karena kedapatan memiliki kokain. Polisi membawa dan menggelandang Maradona, yang saat itu berjalan sambil menangis.

"Ketika dia tiba di Napoli, dia memiliki mata yang cerah, dan memiliki senyum lebar," kata Kapadia.

"Dia pergi, dan merusak dirinya sendiri," katanya sambil menyatakan itu merupakan momen kejatuhan dari pemain sepak bola yang berbakat pada masa itu.

Legenda Argentina Diego Maradona bersama pacarnya Rocio Oliva saat mengunjungi Kolkata, India. (AFP)
Legenda Argentina Diego Maradona bersama pacarnya Rocio Oliva saat mengunjungi Kolkata, India. (AFP)

Maradona hidup bergelimang harta karena diberi bakat istimewa dalam sepak bola. Ia dilahirkan pada tahun 1960 dari keluarga miskin yang tinggal di daerah kumuh Buenos Aires.

Bakat dari kemampuan Maradona di sepak bola sudah terlihat sejak ia masih anak-anak.

Saat menginjak usia 15 tahun, Maradona menandatangani kontrak dengan tim Argentina Juniors. Ia bertanggungjawab atas keuangan seluruh anggota keluarganya.

Prestasinya melesat, kemudian Maradona bergabung bersama Boca Juniors, pada tahun 1981. FC Barcelona kemudian memboyong dia setahun kemudian.

Pribadi yang penuh kontroversi

Ia menderita cedera dan menjalani gaya hidup mewah saat bermain di Eropa. Ia dikenal sebagai pemain sepak bola yang kontroversial dan memiliki temperamen tinggi.

Dalam pertandingan terakhirnya untuk Barcelona - dalam final Copa Del Rey tahun 1984 melawan Atletico Bilbao - Maradona terlibat dalam perkelahian sengit. Ia menyodok kemudian membanting pemain lawan.

Setelah peristiwa memalukan itu, Napoli lantas mengambil risiko dengan membeli Maradona.

Pindah ke Napoli - klub yang sedang berjuang dalam kompetisi Liga Italia saat itu - bukan hal yang membanggakan bagi peningkatan prestasi Maradona.

Diego Maradona bermain untuk Barcelona [AFP]
Diego Maradona bermain untuk Barcelona [AFP]

Hanya saja, Maradona melihat bahwa ada sekitar 80.000 penggemar fanatik Napoli yang menunggu dia dan siap membentangkan karpet merah bagi pemain berpaspor Argentina itu.

Maradona kemudian dielu-elukan oleh ribuan fans pada acara pembukaan stadiona baru Napoli pada Juli 1984, sebelum kompetisi Liga Italia bergulir.

"Napoli dikenal sebagai salah satu kota termiskin di Italia, selain dilabel sebagai kota yang sarat dengan kriminalitas di Eropa saat itu," kata Kapadia.

"Mereka memerlukan kehadiran seorang pahlawan," sambung Kapadia sebagaimana dikutip dari fox sports.

Diego Maradona. (Sportskeeda)
Diego Maradona. (Sportskeeda)

Berpostur tubuh kecil untuk ukuran Eropa pada umumnya, kuat, dan piawai melakukan dribel, Maradona dikenal memiliki teknik sepak bola yang mumpuni.

Maradona mengukir segudang prestasi, kemudian ditunjuk sebagai kapten timnas Argentina di Piala Dunia 1986 di Meksiko.

Di usia 26 tahun, Maradona membawa Argentina mengalahkan Inggris dengan skor 2-1 di babak perempat final. Ia mencetak dua gol, salah satu gol yang dikenal sebagai insiden gol "Tangan Tuhan". Ia menggunakan tangannya untuk mendorong bola masuk ke gawang timnas Inggris yang saat itu dikawal Peter Shilton.

Berita Terkait

Berita Terkini