Liga

Makin Ngenes Usai Ditinggal Cristiano Ronaldo, Mentalitas Juventus Goyah?

Si Nyonya Tua kini terdampar ke zona degradasi.

Husna Rahmayunita

Bek AC Milan, Fikayo Tomori (kiri) berebut bola dengan gelandang Juventus, Adrien Rabiot dalam laga pekan keempat Liga Italia 2021/2022 di Stadion Allianz, Turin, Senin (20/9/2021) dini hari WIB. (Isabella BONOTTO / AFP).
Bek AC Milan, Fikayo Tomori (kiri) berebut bola dengan gelandang Juventus, Adrien Rabiot dalam laga pekan keempat Liga Italia 2021/2022 di Stadion Allianz, Turin, Senin (20/9/2021) dini hari WIB. (Isabella BONOTTO / AFP).

Bolatimes.com - Juventus mencatatkan torehan tak memuaskan sepanjang empat pertandingan Serie A Italia. Bahkan, Si Nyonya Tua kini terdampar ke zona degradasi.

Performa Juventus disebut kian menyedihkan selepas ditinggalkan oleh Cristiano Ronaldo yang memutuskan balik ke Manchenster United saat bursa transfer lalu.

Ronaldo memimpin daftar pencetak gol Juve dalam setiap musim. Kontribusinya ke Juventus tak mesti disambut hangat, lantaran gaji fantastis yang didapatkannya dianggap mesti sesuai dengan performanya di lapangan.

Namun belum lama ditinggal pemain Portugal itu, Juventus kini bak terseok-seok. Belum ada kemenangan yang didapat sepanjang musim ini.

Terakhir, Tim berjuluk Bianconeri itu ditahan imbang oleh AC Milan dengan skor 1-1. Ini menjadi catatan terburuk selama 60 tahun.

Penampilan buruk Juve menjadi sorotan media. Media Italia Corriere dello Sport menyebut klub ini sudah 'titik nadir', sementara harian Turin Tuttosport mengecam "krisis" dalam klub.

Tak cukup sampai di situ, nasib buruk Juve kabarnya membuat mentalitas para pemain mulai goyah.

"Dalam pandangan saya, ini lebih merupakan masalah mental daripada kebugaran fisik,” kata bek Juventus Danilo kepada DAZN seperti dikutip Reuters.

"Pada momen-momen itu kami tak bisa menekan atau bertahan sebagai satu kesatuan, kami tidak cepat mengalirkan bola dan itu tentu saja hal yang perlu kami tingkatkan," sambungnya.

Penggemar Juve menyimpan kekhawatiran terbesar lantaran dari tiga pertandingan liga pertama tim pujaan mereka musim ini adalah kurang tajamnya serangan Juve.

Juve kalah mengejutkan 0-1 di kandang sendiri dalam pertandingan pertamanya melawan klub promosi Empoli tanpa pernah benar-benar mengganggu gawang lawan mereka.

Kekalahan mengejutkan lainnya terjadi saat melawan Napoli. Tetapi skuad Allegri sepertinya sudah membalikkan pendulum kala melawan Milan pada Minggu dengan memulai pertandingan itu dalam intensitas jauh lebih besar, memimpin dalam waktu empat menit dengan gol serangan balik yang menawan.

Juve tetap dominan pada babak pertama, dan sepertinya sudah mendekati penampilan terbaiknya di mana Paulo Dybala mengambil alih peran Ronaldo dan memimpin serangan melawan Milan.

Namun begitu peluang muncul dan memasuki babak kedua, gugup malah menjalari Juve. Mereka menjadi sering kehilangan bola dan sepertinya hanya masalah waktu sampai bagi Milan untuk menyamakan kedudukan.

Bahkan ada duo bek tengah veteran Italia Giorgio Chiellini dan Leonardo Bonucci di jantung lini belakang, Juve kembali gagal membuat clean sheet saat Ante Rebic menyamakan kedudukan.

Namun yang terjadi kemudian justru Milan yang paling berpeluang merebut tiga poin. Walhasil, serentetan hasil ini menjadi PR besar bagi klub.

Merana terdampar di zona degradasi, membuat Juventus disebut-sebut semakin terasa jauh untuk merebut kembali gelar Scudetto.

(Antara)

Berita Terkait

Berita Terkini