Liga

3 Pemain Muslim Ini Bawa Perubahan di Liga Premier Inggris

Kedatangan Mohamed Salah musim ini ke Anfield telah membawa fenomena tersendiri bagi para fan Liverpool.

Galih Priatmojo

Mohamed Salah sujud. (sumber: The Conversation).
Mohamed Salah sujud. (sumber: The Conversation).

Bolatimes.com - Kedatangan Mohamed Salah musim ini ke Anfield telah membawa fenomena tersendiri bagi para fan Liverpool. Penampilannya yang menawan saat mengawali debutnya bersama The Reds membuat para suporter jatuh hati pada sosok pemain Timnas Mesir ini.

Coba simak, beberapa pengakuan dari para suporter yang dengan rela berpindah keyakinan menjadi muslim lantaran sosok Salah. Sejumlah fan lainnya pun bahkan membuat yel-yel atau chant bernada memuji Salah dan keIslamannya.

Diakui atau tidak, pemain yang didapuk sebagai top skor usai membukukan 32 gol ini telah mengubah wajah Liga Premier Inggris. Islamphobia yang belakangan melanda kawasan Inggris mulai terkikis dengan kharisma Salah di lapangan hijau.

Tapi Mohamed Salah bukan satu-satunya. Jauh sebelum kedatangannya di Britania Raya, ada nama Nayim. Ia menjadi pemain muslim pertama yang menginjakkan sepatunya di Liga Premier Inggris.

Pemain muslim pertama Liga Premier Inggris

Dilansir BBC Sport, pemilik nama lengkap Mohammed Alí Amar ini tercatat sebagai pemain yang mengawali jejak para pemain muslim di Liga Premier Inggris.

Pemain kelahiran Spanyol ini sempat membela akademi Barcelona, La Masia, saat masih berusia 12 tahun pada 1979. Namun, pemain asal Spanyol ini tak kunjung mendapatkan tempat utama di tim senior Blaugrana.

Nayim tiba di Inggris pada November 1988 dengan status sebagai pemain pinjaman dari Barcelona ke Tottenham Hotspur. Tampil mengesankan di musim perdananya, Nayim memeroleh status permanen di klub asal London tersebut.

Musim 1989/1990, Tottenham resmi memboyong Nayim dengan transfer sebesar 400 ribu poundsterling, angka yang sebenarnya cukup tinggi pada masa itu.

Nayim/net

Sumber foto: Nayim/net

Musim berikutnya menjadi yang terbaik bagi Nayim. Berposisi sebagai gelandang, ia menjadi tandem andalan Paul Gascoigne yang tengah mengalami masa-masa terbaik dalam kariernya. Nayim kemudian berhasil membawa Tottenham meraih gelar juara Piala Liga pada musim kompetisi 1990/1991.

Nayim berada di Inggris selama lima musim. Ia memiliki karier yang cukup baik di sana. Ia bertahan di Tottenham hingga tahun 1993, atau tepatnya di musim perdana level tertinggi sepak bola Inggris berubah menjadi kompetisi modern, Liga Primer Inggris.

Persembahan terakhirnya untuk Tottenham adalah ketika ia mencetak hat-trick di Piala FA melawan Manchester City.

Sampanye diganti piala

Minuman keras sangat dilarang dalam Islam dan sebagai seorang Muslim Yaya Toure mengatakan dirinya tidak bisa menerima hadiah berupa sampanye.

Peristiwa tersebut terjadi pada Liga Premier Inggris musim 2012/2013. Saat itu Manchester City yang tinggal selangkah merengkuh trofi Liga Premier berhasil membungkam Newcastle United dengan skor 2-0.

Yaya Toure yang berhasil mencetak dua gol didapuk sebagai Man of th Match. Sebagaimana ritual di Liga Premier, pemain yang menjadi bintang lapangan mendapat kesempatan merayakan torehannya tersebut dengan sebotol sampanye yang disediakan panitia.

Namun gelandang asal Pantai Gading tersebut dengan sopan menolaknya. Ia pun kemudian menyerahkan sebotol sampanye tersebut kepada rekan setimnya Joleon Lescott.

"Maaf, saya muslim, saya tidak minum alkohol," ujarnya di tengah wawancara dengan media setempat.

Berawal dari penolakan Yaya Toure ini Liga Primer Inggris sekarang memberi piala atau trofi berukuran kecil kepada pemain terbaik setiap bulannya.

Klub-klub di Liga Primer juga makin sadar tentang persoalan yang bisa timbul dari sampanye, minuman yang biasanya hadir di acara-acara perayaan.

Berita Terkait

Berita Terkini